( YANG MAHA PERKASA )
Al-‘Aziiz artinya memiliki segala macam kemuliaan; kemuliaan kekuatan, kemuliaan kemenangan, dan kemuliaan pertahanan. Sehingga tidak seorangpun dari makhluk yang dapat mencelakan-Nya, dan Ia mengalahkan dan menundukkan segala yang ada, sehingga tunduklah kepada-Nya seluruh makhluk karena keperkasaan-Nya. Kekuatan-Nya tidak bisa dibendung dan kedudukan-Nya tidak bisa diraih. Begitu tingginya sehingga tidak bisa disentuh oleh keburukan dan kehinaan.
Ibnu Katsir berkata, “Al-Aziz adalah yang menundukkan segala sesuatu dan mengalahkannya, Yang menaklukkan segala sesuatu, maka tidak seorangpun yang dapat menghina karena kekuatan, keagungan, keperkasaan dan kebesaran yang dimiliki-Nya.
Imam Al Ghazali memberi tiga syarat bagi penyandang sifat dan nama Al Aziz. Pertama, perannya sangat penting dan hanya sedikit yang bisa menjalankan. Kedua, keberadaannya sangat dibutuhkan. Ketiga, sulit untuk diraih atau disentuh. Tanpa terhimpunnya tiga syarat di atas, tidak wajar jika dinamai Al Aziz. Al Aziz hanya pantas disandang Allah, karena hanya Dia yang bisa menghimpun tiga syarat itu sekaligus. Tak satupun yang bisa menghimpun tiga syarat di atas, tanpa kekurangan. Barangsiapa yang menghendaki Al-izzah (kemuliaan), maka kemuliaan seluruhnya hanya milik Allah. (Q.S. 35; Faathir ayat 10)
Karena kemuliaan (Al Aziz) itu milik Allah, maka Allah-lah yang paling berhak menganugerahkan kemuliaan kepada yang dikehendaki-Nya. Sebagaimana firman-Nya dalam dalam Q.S. 63; Al Munaafiquun ayat 8 yang artinya: “Mereka berkata: "Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya". Padahal keperkasaan itu hanyalah milik Allah, milik Rasul-Nya dan milik orang-orang mu'min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.
Melalui hadis Qudsi Allah menjelaskan cara meraih kemuliaan: “Sesungguhnya Tuhan kalian berfirman setiap hari, Akulah Al Aziz (Yang Maha Mulia), barangsiapa yang menghendaki kemuliaan dunia dan akhirat, hendaklah dia taat kepada Al Aziz”.
Mencari kemuliaan dengan cara mengabdi kepada manusia dan dunia (harta, jabatan dan kedudukan), tidak akan menghasilkan apa-apa, selain kehinaan di mata Allah dan manusia. Karena Allah akan menghinakan di dunia dan di akhirat. “Siapa yang mencari kemuliaan melalui suatu kaum, Allah akan menghinakannya melalui mereka”.
Mu’jizat dan Karamah adalah merupakan kemuliaan yang diberikan oleh Allah kepada para Rasul-Nya dan orang-orang yang shaleh. Mu’jizat berarti kejadian yang luar biasa yang terdapat pada Rasul-rasul Allah untuk melemahkan musuh-musuhnya, sehingga mereka percaya bahwa dia adalah seorang Rasul. Mu’jizat itu hanya diberikan oleh Allah kepada para nabi dan Rasulnya untuk menolong menumbangkan kepercayaan orang-orang yang mempertuhankan selain Allah. sebagai contoh kepada Nabi Ibrahim AS Allah memberikan mu’jizat tidak hangus dibakar api. Kepada Nabi Musa AS Allah menjadikan tongkat yang bisa berobah menjadi ular, bisa membelah lautan dan bisa menjadi alat untuk mengeluarkan sumber mata air ketika tongkat itu dipukulkan kepada batu. Kepada Nabi Isa AS Allah memberikan mu’jizat bisa menghidupkan orang yang mati, menyembuhkan orang sakit dan bisa menyembuhkan orang yang buta menjadi bisa melihat. Nabi Yunus AS tidak mati di dalam perut Ikan bahkan ikan itu mengantarkannya ke tepi pantai sehingga dia bisa kembali kepada kaumnya.
Karamah atau keramat adalah anugrah, kemurahan hati, perlindungan dan pertolongan Allah yang dianugrahkan kepada para wali-Nya dan hamba-Nya yang shaleh, yang berjiwa bersih dan tekun mengerjakan segala amal ibadah, sebagai sesuatu keadaan yang luar biasa di luar pengalaman manusia biasa. Orang-orang sufi meyakini bahwa para wali mempunyai keistimewaan, seperti kemampuan melihat hal-hal yang ghaib atau kemampuan melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh manusia biasa.
Sebagai contoh Allah melukiskan dalam Q.S. 27;’ an-Naml ayat 39-40, bahwa seorang yang mempunyai ilmu dari kitab dapat memindahkan singgasana ratu Bulkis dari negeri saba” kehadapan Nabi Sulaiman AS, hanya dalam sekejap mata.
Dalam Surat 3; Ali Imran ayat 37 Allah menceritakan bagaimana kagumnya nabi Zakaria AS, setiap kali masuk kemihrab untuk menemui Maryam, Dia mendapati ada makanan yang datang dari sisi Allah, kejadian kejadian ini merupakan anugerah yang luar biasa dari Allah yang disebabkan oleh ketaatan Maryam dalam beribadah dan kesucian hatinya.
Orang yang mulia (aziiz) di sisi Allah adalah orang melayani kebutuhan hamba-hamba Allah dalam urusan mereka, tingkat kemuliaan ini sangat ditentukan oleh besar kecil peranannya dalam membimbing dan mengarahkan masyarakat ke jalan-Nya.
Beriman kepada nama ini akan menanamkan rasa berani dan kepercayaan kepada Allah SWT, sebab makna yang tersirat dari nama ini adalah bahwa tidak seorangpun yang mampu mencegah dan menolak perintah Allah SWT, dan apapun yang dikehendaki-Nya pasti akan terjadi sekalipun seluruh manusia tidak menghendakinya dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan pernah terjadi sekalipun seluruh manusia mengharapkannya terjadi .
Orang yang mulia di dunia dan akherat adalah orang yang dimuliakan oleh Allah. Maka barangsiapa yang menginginkan kemuliaan, hendaklah dia memintanya dari Allah SWT Yang memiliki kemuliaan.
Di antara sebab kemuliaan seseorang dan kedudukannya yang tinggi adalah memaafkan dan merendahkan diri. Diriwayatkan oleh Muslim dari hadits Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tidaklah suatu harta itu berkurang karena shedekah, dan tidaklah Allah SWT menambahkan bagi seorang hamba yang bersifat pemaaf kecuali dengan kemuliaan, dan tidaklah seorang hamba merendah diri kecuali Allah akan mengangkatnya”. Maka barangsiapa yang memaafkan kesalahan seseorang padahal dia mampu membalas maka dia akan menjadi orang yang besar di dalam hati manusia saat hidup di dunia ini dan di akherat dia akan mendapat pahala yang besar dari Allah.
Apa yang menimpa kaum muslimin berupa kelemahan, kehinaan,
kerendahan dan tertinggal dari umat yang lain pada zaman sekarang ini adalah sebab langsung dari dosa-dosa dan kemaksiatan mereka, mereka menjauhi agama Allah SWT, seandainya mereka berpegang degan ajaran agama ini dan mengamalkan apa yang ada padanya maka Allah SWT pasti memuliakan dan menolong mereka atas musuh-musuh mereka, dan umat Islam pasti menjadi pemimpin dunia
Orang yang menghayati sifat Al Aziz senantiasa menjaga dirinya dari ketergantungan kepada siapapun. Ia tidak pernah mau mengulurkan tangan meminta bantuan orang lain, apalagi meminta-minta. Dalam keadaan yang paling sulit sekalipun, ia tetap menahan diri. Mereka ini telah digambarkan dalam Al Qur’an: “Orang-orang yang tidak tahu mengira mereka orang kaya karena memelihara diri mereka dari meminta-minta.” (Q.S. 2; Al Baqarah: 273)
Integritas pribadinya sangat menonjol, karena ia tidak pernah merendahkan diri kepada dunia maupun orang lain disebabkan harta atau kedudukan sosial. “Barangsiapa merendah demi kekayaan, maka dua pertiga agamanya telah hilang”.
Yaa Allah Yaa Aziz, bersihkan hati kami dari rayuan materi sehingga kami tidak memandang mulia selain Engkau. Himpunlah kami bersama orang-orang yang telah Engkau anugerahi kemuliaan, serta curahkanlah kepada kami rahasia kemuliaan-Mu sehingga jiwa kami mengangkasa menuju keharibaan-Mu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar