ASY-SYAHIID
( YANG
MAHA MENYAKSIKAN )
Dialah Tuhan yang
maha melihat, walaupun zat-Nya tidak bisa dilihat. Dan Dialah Tuhan yang
memberi makan dan tidak butuh kepada makanan, Yang Menguasai hidup dan mati
kita dan kepada-Nya kembali segala sesuatu.
Allah swt menyaksikan segala perbuatan
seluruh makhluk-Nya. Kata asy-Syahiid
juga berarti bahwa Allah swt hadir, tidak ghaib dari segala sesuatu, dan
senantiasa nyata hadir dalam setiap hakikat yang ada. Kehadiran Allah tidak
bersifat fisik, melainkan melalui sentuhan hati nurani dan akal fikiran.
Persaksian atau kehadiran Allah atas hamba-hamba-Nya akan memberikan efek
positif hingga mereka akan merasa senang, damai, tenteram, dan bahagia. “Dialah yang mempunyai kerajaan langit
dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu” (Q.S. al-Buruuj ayat 9).
Kesaksian yang luar biasa adalah kesaksian Allah terhadap diri-Nya sendiri
sebagai Tuhan “Allah menjadi saksi bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan
orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan
(yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(Q.S.
3 Ali Imraan ayat 18.
Kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Dia adalah juga pengakuan seorang hamba yang secara sadar mengakui keberadaan
Allah sebagai Tuhan Pencipta, Pemilik, Yang disembah,
ditakuti dan diharapkan, Tidak ada kecintaan yang melebihi
dari cinta kepada-Nya. Kesaksian ini adalah syarat
utama untuk mendapat pelayanan dari Allah sebagai makhluk yang sadar diri, yang
harus dinyatakan sebagai sumpah, tekad dan janji yang terangkum dalam dua
kalimat syahadat sebagai pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa
Nabi Muhammad SAW adalah Utusan Allah. Kemudian diiringi dengan ketundukan
untuk berserah diri dalam melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.
Itulah iman yang terhunjam kokoh dan kuat di dalam hati, terucap di lisan dan teraplikasi melalui amal
perbuatan sehari-hari yang melahirkan sikap istiqamah yang tidak akan lapuk karena hujan dan tidak akan lekang
karena panas, “Sesungguhnya orang-orang
yang mengatakan,”Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian
mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan “Janganlah
kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan gembirakanlah mereka
dengan memperoleh syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (Q.S. 41; Fush Shilat ayat 30)
Iman
yang istiqamah akan membentuk sikap syaja’ah yang artinya keberanian
dalam menghadapi seluruh asfek kehidupan, membentuk sikap al
itmi’nan yaitu ketenangan dalam hidup, hidup harus dijalani apa adanya,
derita dan bahagia hanya dinamika hidup yang harus dinikmati, bila mendapat
kebahagiaan maka layaklah bila bersyukur dan sebaliknya bila derita dirasakan harus
bersabar, serta membentuk sikap tafaul yaitu sikap hidup yang optimis. Bahwa Allah menciptakan manusia menjadi khalifah dan
calon pemenang yang harus berjuang untuk merebutnya.
Asy-Syahiid, Allah Maha Menyaksikan, Dia mengetahui apa yang ada di langit dengan segala bintang, bulan, matahari, planet-planet dan penghuni jagad rayai tu,
dan apa yang ada di bumi,
semua binatang melata, manusia dan tumbuh-tumbuhan serta apa
yang ada dalam kandungan bumi, yang sebagian besar sangat bermanfaat bagi manusia berupa barang tambang sebagai devisa yang tidak sedikit, “Dan
(ingatlah), ketika Allah mengambil Perjanjian dari Para nabi: "Sungguh, apa saja yang aku berikan kepadamu berupa kitab dan Hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasul
yang membenarkan apa
yang ada padamu,
niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya".
Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku
terhadap yang demikian itu?"
mereka menjawab:
"Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah
(hai Para Nabi) dan aku menjadi saksi
(pula) bersama kamu".(Q.S. 3; Ali Imran ayat 81).
Asy-Syahiid, Allah Maha Menyaksikan, Dia mengetahui tentang keimanan seseorang, apakah iman yang bercampur dengan syirik atau iman
yang hanya sebatas hiasan bibir sebagaimana orang-orang munafiq, atau orang yang
beriman dengan sebenar-benar iman. Dalam hadits yang
diriwayatkan Muslim diceritakan bahwa Allah akan membalas dan membuka segala kepalsuan yang dilakukan manusia
dikatakan bahwa pada hari kiamat akan diadili terlebih dahulu tiga golongan
manusia yaitu pejuang, kaum terpelajar dan golongan hartawan. Ketiga golongan
ini diperiksa satu persatu;
Kaum
pejuang ditanya, ”Apa yang telah engkau kerjakan di dunia ?” mereka menjawab,
”Saya berjuang dan bertempur pada jalan Engkau sehingga saya tewas di medan
juang”, Allah menyanggah, ”Engkau berdusta, kamu tewas bukanlah karena
mempertahankan agama Allah tapi hanhya
karena mengharapkan supaya kamu disebut sebagai pahlawan, tempatmu di neraka”.
Kaum
terpelajar ditanya, ”Apakah amal yang kamu kerjakan ?” mereka menjawab, ”Saya
menuntut ilmu, kemudian saya ajarkan pula kepada orang lain, dalam pada itu
senantiasa saya membaca Al Qur’an”, dengan keras Allah membentak mereka,
”Engkau pembohong, sebab engkau belajar dan mengajar agar digelari orang ulama, kamu senantiasa membaca Al
Qur’an supaya disebut qori’, tempatmu di neraka”.
Kaum
dermawan ditanya, ”Allah telah melapangkan hidupmu dan mengaruniakan rezeki
yang banyak kepada engkau, apa yang telah kamu kerjakan dengan nikmat itu?”
mereka menjawab,”Saya,menginfakkannya dijalan-Mu”.
Allah membentak mereka, ”Engkau pembohong
engkau menafkahkan harta itu hanya
supaya engkau disebut orang dermawan”. tempatmupun
di neraka”.
Dapat
dipastikan bahwa orang yang membela kebenaran, berjihad di jalan Allah maka
kematian bagi mereka adalah syahid atau menjadi saksi
kematiannya adalah dalam keislaman,
yaitu kualitas akhir kehidupan yang tidak ada balasannya kecuali syurga,
niatnya ikhlas, caranya sesuai dengan apa yang diteladankan oleh Rasulullah,
dan tujuannyapun mencari ridha Allah semata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar