Minggu, 13 November 2016

PERMATA INDAH ASMAAUL HUSNAA ( 51) ASY-SYAHIID ( YANG MAHA MENYAKSIKAN )

ASY-SYAHIID  
( YANG MAHA MENYAKSIKAN )

Dialah Tuhan yang maha melihat, walaupun zat-Nya tidak bisa dilihat. Dan Dialah Tuhan yang memberi makan dan tidak butuh kepada makanan, Yang Menguasai hidup dan mati kita dan kepada-Nya kembali segala sesuatu.


Allah swt menyaksikan segala perbuatan seluruh makhluk-Nya. Kata asy-Syahiid juga berarti bahwa Allah swt hadir, tidak ghaib dari segala sesuatu, dan senantiasa nyata hadir dalam setiap hakikat yang ada. Kehadiran Allah tidak bersifat fisik, melainkan melalui sentuhan hati nurani dan akal fikiran. Persaksian atau kehadiran Allah atas hamba-hamba-Nya akan memberikan efek positif hingga mereka akan merasa senang, damai, tenteram, dan bahagia. “Dialah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu” (Q.S. al-Buruuj ayat 9).
Kesaksian yang luar biasa adalah kesaksian Allah terhadap diri-Nya sendiri sebagai Tuhan “Allah menjadi saksi bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(Q.S. 3 Ali Imraan ayat 18.

Kesaksian bahwa tiada Tuhan selain Dia adalah juga pengakuan seorang hamba yang secara sadar mengakui keberadaan Allah sebagai Tuhan Pencipta, Pemilik, Yang disembah, ditakuti dan diharapkan, Tidak ada kecintaan yang melebihi dari cinta kepada-Nya. Kesaksian ini adalah syarat utama untuk mendapat pelayanan dari Allah sebagai makhluk yang sadar diri, yang harus dinyatakan sebagai sumpah, tekad dan janji yang terangkum dalam dua kalimat syahadat sebagai pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Utusan Allah. Kemudian diiringi dengan ketundukan untuk berserah diri dalam melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Itulah iman yang terhunjam kokoh dan kuat di dalam hati, terucap di lisan dan teraplikasi melalui amal perbuatan sehari-hari yang melahirkan sikap istiqamah yang tidak akan lapuk karena hujan dan tidak akan lekang karena panas,  “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan,”Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan gembirakanlah mereka dengan memperoleh syurga yang telah dijanjikan Allah kepadamu” (Q.S. 41; Fush Shilat ayat 30)

Iman yang istiqamah akan membentuk sikap syaja’ah yang artinya  keberanian dalam menghadapi seluruh asfek kehidupan, membentuk sikap al itmi’nan yaitu ketenangan dalam hidup, hidup harus dijalani apa adanya, derita dan bahagia hanya dinamika hidup yang harus dinikmati, bila mendapat kebahagiaan maka layaklah bila bersyukur dan sebaliknya bila derita dirasakan harus bersabar,  serta membentuk sikap tafaul yaitu sikap hidup yang optimis. Bahwa Allah menciptakan manusia menjadi khalifah dan calon pemenang yang harus berjuang untuk merebutnya.
           
Asy-Syahiid,  Allah Maha Menyaksikan, Dia mengetahui apa yang ada di langit dengan segala bintang, bulan, matahari, planet-planet dan penghuni jagad rayai tu, dan apa yang ada di bumi, semua binatang melata, manusia dan tumbuh-tumbuhan serta apa yang ada dalam kandungan bumi, yang sebagian besar sangat bermanfaat bagi manusia berupa barang tambang sebagai devisa yang tidak sedikit, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil Perjanjian dari Para nabi: "Sungguh, apa saja yang aku berikan kepadamu berupa kitab dan Hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang  ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya". Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" mereka menjawab: "Kami mengakui". Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai Para Nabi) dan aku menjadi saksi (pula) bersama kamu".(Q.S. 3; Ali Imran ayat 81).

Asy-Syahiid,  Allah Maha Menyaksikan, Dia mengetahui tentang keimanan seseorang, apakah iman yang bercampur dengan syirik atau iman yang hanya sebatas hiasan bibir sebagaimana orang-orang munafiq, atau orang yang beriman dengan sebenar-benar iman. Dalam hadits yang diriwayatkan Muslim diceritakan bahwa Allah akan membalas  dan membuka segala kepalsuan yang dilakukan manusia dikatakan bahwa pada hari kiamat akan diadili terlebih dahulu tiga golongan manusia yaitu pejuang, kaum terpelajar dan golongan hartawan. Ketiga golongan ini diperiksa satu persatu;

Kaum pejuang ditanya, ”Apa yang telah engkau kerjakan di dunia ?” mereka menjawab, ”Saya berjuang dan bertempur pada jalan Engkau sehingga saya tewas di medan juang”, Allah menyanggah, ”Engkau berdusta, kamu tewas bukanlah karena mempertahankan  agama Allah tapi hanhya karena mengharapkan supaya kamu disebut sebagai pahlawan, tempatmu di neraka”.

Kaum terpelajar ditanya, ”Apakah amal yang kamu kerjakan ?” mereka menjawab, ”Saya menuntut ilmu, kemudian saya ajarkan pula kepada orang lain, dalam pada itu senantiasa saya membaca Al Qur’an”, dengan keras Allah membentak mereka, ”Engkau pembohong, sebab engkau belajar dan mengajar agar digelari  orang ulama, kamu senantiasa membaca Al Qur’an supaya disebut qori’, tempatmu di neraka”.

Kaum dermawan ditanya, ”Allah telah melapangkan hidupmu dan mengaruniakan rezeki yang banyak kepada engkau, apa yang telah kamu kerjakan dengan nikmat itu?” mereka menjawab,”Saya,menginfakkannya dijalan-Mu”.  Allah membentak mereka, ”Engkau pembohong engkau menafkahkan harta itu hanya supaya engkau disebut orang dermawan”.  tempatmupun di neraka”.


Dapat dipastikan bahwa orang yang membela kebenaran, berjihad di jalan Allah maka kematian bagi mereka adalah syahid atau menjadi saksi kematiannya adalah dalam keislaman, yaitu kualitas akhir kehidupan yang tidak ada balasannya kecuali syurga, niatnya ikhlas, caranya sesuai dengan apa yang diteladankan oleh Rasulullah, dan tujuannyapun mencari ridha Allah semata. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar