Jangan tanyakan kenapa diri kita dirundung
kesusahan dan kesulitan . Tapi pertanyakanlah bagaimana sikap kita kepada Allah
dalam menyikapi kesusahan dan kesulitan itu.
Allah Maha Berkuasa menggenggam atau
menyempitkan segala sesuatu yang menyangkut makhluk-Nya, baik manusia maupun
alam semesta, yang berkenaan dengan materi dan non materi. Kata al-Qaabidh sebagai
kata sifat sebenarnya tidak ditemukan dalam al-Qur'an, yang banyak
ditemukan adalah kata kerja berupa yaqbidhu yang artinya Dia menyempitkan
atau menggenggam, seperti disebutkan dalam firman Allah swt, “Siapa yang mau
memberi pinjaman pada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan
Allah), maka Allah akan melipatgandakan pembayaran padanya dengan pelipatgandaan
yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan
pada-Nya lah kamu dikembalikan” (Q.S. 2; al-Baqarah ayat 245).
Sekalipun kata Al-Qaabidh tidak dijumpai
dalam Al-Qur’an, tapi kita bisa menemukannya dalam berbagai riwayat hadits, di
antaranya menjelaskan tentang kekuasaan Allah menahan nyawa hamba-hamba-Nya
yang sesuai dengan kehendak-Nya. Rasulullah SAW bersabada:“Sesungguhnya
Allah menahan nyawa (jiwa) kamu bila Dia menghendaki dan mengembalikannya jika
Dia menghendaki”.
Tidak ada bisa menyalahkan Allah ketika menyempitkan rizki seseorang atau memendekkan
umur hamba-Nya, karena di balik semua kebijakan-Nya terdapat hikmah yang Dia
sendiri mengetahui-Nya, sedangkan manusia baru bisa mengambil hikmahnya setelah
peristiwanya berlalu. Dan dibalik sifat itu Allah pun memiliki sifat al-Baasith
yang berarti maha melapangkan.
Oleh karena itu kita harus berhati-hati menjalani hidup dan tidak main-main ketika diserahi titipan
jabatan sebagai pengasa, pengusaha, ulama,
hakim, politisi, atau jabatan apapun, sebab bila Allah melihat sesuatu yang
tidak beres atas perilaku hamba-hamba-Nya, maka Dia segera mengambil tindakan
dengan dua tujuan, yaitu peringatan atau hukuman.
Ketika Allah mengambil tindakan dengan menyempitkan gerak langkah kita melalui berbagai cara. Mulai dari menyempitkan rizki, memberikan rasa sakit, membatasi akses dan kesempatan, sampai pada menjadikan kita sesak dada dengan adanya berbagai tekanan dan himpitan permasalahan, hendaklah kita segera menyadari bahwa itu semua adalah teguran Allah, kemudian meresponnya dengan kembali pada jalan yang benar sesuai kehendak-Nya. Apabila kita keras kepala atau berhati batu, peringatan Allah itu tidak kita respon secara positif,dan tetap berada di jalan yang sesat, sudah sepantasnyalah kita diberi hukuman.
Akan tatapi bisa juga kesempitan dan kesulitan itu adalah sebagai ujian yang meminta kita untuk ridha menerima segala ketetapan Allah dengan lapang dada, sebagai manifestasi dari keyakinan kita kepada taqdir-Nya. Dengan keridhaan itu, insya-Allah kita akan merasakan sekaligus menikmati manisnya iman.
Supaya
rezeki kita tidak disempitkan oleh Allah maka sebaik-nya kita meningkatkan
keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah, karena Allah telah menjamin untuk memberikan
rezeki kepada orang yang-orang yang bertaqwa dengan cara yang tidak pernah
diduga-duga. Dan berjanji pula kepada orang yang bertawakkal untuk memenuhi
segala kebutuhannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar