Rabu, 24 Agustus 2016

PERMATA INDAH ASMAAUL HUSNAA ( 28 ) AL-BASHIIR ( YANG MAHA MELIHAT )

Allah swt Maha Melihat segala sesuatu yang dilakukan hamba-hamba-Nya, baik kegiatan lahir maupun batin. Dalam sebuah ilustrasi bisa dikatakan bahwa Allah swt mampu melihat benda-benda yang sangat kecil yang ada di bawah dasar laut. Sifat al-Bashīr disebut sebanyak 53 kali dalam al-Quran. Ini menunjukkan bahwa sifat al-Bashīr yang dilekatkan pada Allah memiliki banyak penegasan bahwa Allah Maha Melihat sekaligus Maha Mengetahui segala tindakan dan perilaku makhluk-Nya, baik yang ada di langit maupun di bumi.

Al-Bashiir berasal dari kata ba-sha-ra, yang arti harfiahnya adalah “melihat”. bashara bisa berarti ilmu atau kejelasan. Arti lain, seperti yang sering dipakai oleh kaum sufi, adalah mata hati atau mata batin. Ada pula yang menyebutnya dengan indera keenam. Apa pun namanya, seseorang yang telah memiliki bashirah akan mampu melihat hal-hal yang ghaib. Ketika melihat sesuatu, ia tidak hanya melihat dengan mata kepalanya saja, tetapi menggunakan mata batinnya yang dapat menembus batas ruang dan waktu.

Bashirah dalam pengertian yang kedua tersebut hanya diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa berusaha mendekatkan diri kepada-Nya, atau melakukan taqarrub kepada Allah. Salah satu hamba-Nya yang memiliki bashirah adalah Muhammad saw, sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Qur’an: “Telah diperlihatkan sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami.” (Q.S; 17 Al-Israa’ ayat 1). “Tanda-tanda Kami” dalam ayat di atas tidak lain adalah sesuatu yang ghaib, terselubung, atau tersembunyi. Nabi Muhammad diberi kesempatan untuk menyaksikan peristiwa ghaib melalui mata batinnya. Tirai yang menyelubungi alam ghaib dibuka sehingga tidak ada lagi pembatas yang mengantarai Rasulullah saw dengan alam ghaib. Dengan begitu, peristiwa masa lalu, sekarang, dan yang akan datang, tertampang jelas di hadapannya.

Bashirah itu tidak hanya diberikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad saja, tapi dalam batas-batas tertentu juga dikaruniakan kepada para hamba-Nya yang senantiasa taqarrub kepada-Nya. Dalam hadits Qudsi Allah berfirman: “Dan seorang hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku dengan melakukan ibadah-ibadah sunnat sehingga Aku mencintainya. Maka apabila Aku telah mencintainya, Akulah yang menjadi pendengarannya, penglihatannya, dan sebagai tangan yang digunakannya, serta kaki yang dijalankannya. Apabila ia memohon kepada-Ku pasti Ku-kabulkan. Jika meminta perlindungan, maka pasti Aku lindungi.” (HR. Bukhari)

Kita harus menyadari bahwa seluruh aktifitas kita dilihat dan diawasi oleh Allah. Dengan kesadaran itu, kita akan selalu memilih aktifitas yang baik dan mendatangkan manfaat. Sebaliknya, kita akan berusaha dengan sungguh-sungguh menghindari segala aktifitas yang sia-sia dan mendatangkan mudharat, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Ketika terbersit keinginan untuk berbuat maksiat, sekecil apa pun, kita segera menyadari bahwa Allah (Al-Bashir) sedang mengawasi kita.

Ya Allah, Ya Bashiir, berilah kami mata batin agar kami dapat melihat tanda-tanda kebesaran-Mu, agar kami senantiasa memuliakan dan mengagungkan-Mu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar