Allah swt Maha Melihat segala sesuatu yang
dilakukan hamba-hamba-Nya, baik kegiatan lahir maupun batin. Dalam sebuah
ilustrasi bisa dikatakan bahwa Allah swt mampu melihat benda-benda yang sangat
kecil yang ada di bawah dasar laut. Sifat al-Bashīr disebut sebanyak 53 kali
dalam al-Quran. Ini menunjukkan bahwa sifat al-Bashīr yang dilekatkan pada
Allah memiliki banyak penegasan bahwa Allah Maha Melihat sekaligus Maha
Mengetahui segala tindakan dan perilaku makhluk-Nya, baik yang ada di langit
maupun di bumi.
Al-Bashiir berasal
dari kata ba-sha-ra, yang arti harfiahnya adalah “melihat”. bashara bisa
berarti ilmu atau kejelasan. Arti lain, seperti yang sering dipakai oleh kaum
sufi, adalah mata hati atau mata batin. Ada pula yang menyebutnya dengan indera
keenam. Apa pun namanya, seseorang yang telah memiliki bashirah akan mampu
melihat hal-hal yang ghaib. Ketika melihat sesuatu, ia tidak hanya melihat
dengan mata kepalanya saja, tetapi menggunakan mata batinnya yang dapat
menembus batas ruang dan waktu.
Bashirah dalam pengertian yang kedua tersebut
hanya diberikan oleh Allah kepada hamba-hamba-Nya yang senantiasa berusaha
mendekatkan diri kepada-Nya, atau melakukan taqarrub kepada Allah. Salah satu
hamba-Nya yang memiliki bashirah adalah Muhammad saw, sebagaimana yang
dinyatakan dalam al-Qur’an: “Telah diperlihatkan sebagian dari tanda-tanda
(kebesaran) Kami.” (Q.S; 17 Al-Israa’
ayat 1). “Tanda-tanda Kami” dalam ayat di atas tidak lain adalah
sesuatu yang ghaib, terselubung, atau tersembunyi. Nabi Muhammad diberi
kesempatan untuk menyaksikan peristiwa ghaib melalui mata batinnya. Tirai yang
menyelubungi alam ghaib dibuka sehingga tidak ada lagi pembatas yang
mengantarai Rasulullah saw dengan alam ghaib. Dengan begitu, peristiwa masa
lalu, sekarang, dan yang akan datang, tertampang jelas di hadapannya.
Bashirah itu tidak hanya diberikan oleh Allah
kepada Nabi Muhammad saja, tapi dalam batas-batas tertentu juga dikaruniakan
kepada para hamba-Nya yang senantiasa taqarrub kepada-Nya. Dalam hadits
Qudsi Allah berfirman: “Dan seorang hamba-Ku senantiasa mendekat kepada-Ku
dengan melakukan ibadah-ibadah sunnat sehingga Aku mencintainya. Maka apabila
Aku telah mencintainya, Akulah yang menjadi pendengarannya, penglihatannya, dan
sebagai tangan yang digunakannya, serta kaki yang dijalankannya. Apabila ia
memohon kepada-Ku pasti Ku-kabulkan. Jika meminta perlindungan, maka pasti Aku
lindungi.” (HR. Bukhari)
Kita harus menyadari bahwa seluruh aktifitas
kita dilihat dan diawasi oleh Allah. Dengan kesadaran
itu, kita akan selalu memilih aktifitas yang baik dan mendatangkan manfaat.
Sebaliknya, kita akan berusaha dengan sungguh-sungguh menghindari segala
aktifitas yang sia-sia dan mendatangkan mudharat, baik bagi diri sendiri maupun
bagi orang lain. Ketika terbersit keinginan untuk berbuat maksiat, sekecil apa
pun, kita segera menyadari bahwa Allah (Al-Bashir) sedang mengawasi kita.
Ya Allah, Ya Bashiir, berilah kami
mata batin agar kami dapat melihat tanda-tanda kebesaran-Mu, agar kami
senantiasa memuliakan dan mengagungkan-Mu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar