Kalau Allah telah melapangkan karunia-Nya
kepada kita maka tidak ada lagi yang dapat menyempitkannya. Maka amatlah merugi
orang-orang yang tidak mau menyandarkan dirinya kepada Allah.
Allah swt berkuasa melebarkan atau melapangkan segala
sesuatu yang menyangkut makhluk-Nya, baik manusia maupun alam semesta, yang
berkenaan dengan materi dan non materi. Al-Bāsith adalah lawan dari al-Qābith.
Seperti halnya al-Qābith, al-Bāsith sebagai kata sifat tidak ditemukan dalam
al-Quran, yang ada adalah kata kerjanya berupa yabsuthu yang artinya Dia
melapangkan atau meluaskan. Allah lebih mengutamakan kelapangan, keluasan, dan
kedermawanan pada hamba-hamba-Nya daripada kesempitan, kesusahan, dan
kekikiran. "Allah melapangkan rizki bagi siapa
saja yang dikehendaki di antara hamba-hamba-Nya dan Dia pula yang menyempitkan
baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. 29;
Al-Ankabuut
ayat 62)
Al-Baasith adalah nama Allah yang menyertai bahkan tak terpisahkan dari Al-Qaabidh. Jika Al-Qaabidh bermakna menyempitkan, maka Al-Baasith berarti sebaliknya, Maha Melapangkan. Kata al-Baasith sendiri berasal dari ba-sa-tha yang berarti keterhamparan, kemudian dikembangkan menjadi memperluas atau melapangkan.
Adalah hak mutlak Allah untuk melapangkan atau menyempitkan rizki hamba-hamba-Nya, sebagaimana memperpanjang dan memperpendek umur mereka. Sebagian orang dimudahkan mendapat rizki sehingga harta kekayaannya melimpah, sebagian yang lain disempitkan rizkinya sehingga hidupnya pas-pasan atau malah kekurangan. Dialah yang mengetahui rahasia di balik pembagian rizki yang tidak merata.
Bagi mereka yang dilapangkan rizkinya, hendaknya senantiasa menyadari bahwa rizki itu amanah dan titipan Allah dengan berusaha sekuat tenaga untuk memberi kelapangan kepada siapa saja yang membutuhkannya. Dan dengan ketulusan menyatakan :”Ini semua adalah merupakan Karunia Tuhanku kepadaku, karena Dia ingin menguji aku, apakah aku termasuk orang yang bersyukur atau oarang yang kufur nikmat.” Lalu senantiasa berdo’a kepada Allah seperti do’a nabi Sulaiman AS yang diabadikan dalam surat 27; an-Naml ayat 19 yang artinya:”Ya Tuhanku! Berilah aku kesempatan untuk berterimakasih atas nikmat-Mu yang Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku, dan supaya aku dapat mengerjakan perbuatan yang baik yang Engkau ridhai, dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam hamba-hamba-Mu yang shaleh”.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar