Allah tidak pernah membuat ukuran kemuliaan
manusia itu karena harta, pangkat dan ketampanan atau kecantikan. Tapi Allah
menilai kemuliaan manusia itu dari ketaqwaan hati yang mengendalikan semua itu.
Betapa banyaknya kita
menemukan yang berhias dengan kemewahan, harta melimpah dan banyak mempunyai
kerabat, namun tiba-tiba bencana dan mala petaka datang menimpa, mereka hancur
berantakan menjadi puing-puing yang berserakan, hidup dalam kehinaan setelah
sebelumnya mereka menjadi orang terpandang dan terhormat.
Kita tidak akan pernah mencapai
kemuliaan bila kita tidak pernah mencintai kemuliaan, dan mau menempuh jalan
menuju kemuliaan itu, serta melaksanakan sebab yang membawa kepadanya. Sehingga
kita meraihnya dengan rasa puas, dengan dada yang lapang dan dengan jiwa yang
tenang, karena kita berjalan menuju kepadanya dengan dorongan cinta yang besar
untuk cepat-cepat meraihnya.
Orang-orang yang dikuasai
oleh hawa nafsunya dan berjiwa munafik tidak akan pernah meraih kemuliaan
karena di lubuk hatinya tertanam rasa benci kepada kebaikan dan kebenaran,
serta akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang diinginkannya, maka
tentu saja orang yang seperti itu tidak akan mungkin sampai kepada kemuliaan, karena
yang pantas untuk mereka hanyalah kehinaan dan kerendahan.
Al-Mu’izz berarti Allah Maha Memuliakan hamba-Nya. Allah memuliakan dan
mengangkat derajat orang-orang yang berakhlak baik dan yang dikehendaki-Nya.
Manusia tidak akan menduga barangkali seseorang yang di dunia begitu dimusuhi
dan dihina, akan menjadi hamba yang mulia di sisi-Nya.
Allah swt adalah pemilik hakiki segala
kemuliaan. Dia berkuasa mutlak untuk menganugerahkan kemuliaan dan kekuasaan
pada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Kemuliaan yang besumber dari Allah
bersifat langgeng atau abadi, kecuali Dia sendiri yang mencabutnya. Kata
al-Mu’izz sebagai kata sifat (subyek) tidak ditemukan dalam al-Qur’an, yang ada
adalah kata kerja berupa yu’izzu atau tu’izzu yang berarti memuliakan, seperti
disebutkan dalam Q.S. 3; Ali Imran
ayat
26-27 yang artinya:” Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang
mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki
dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan
orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di
tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala
sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke
dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan
yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki
tanpa hisab (batas)."
Ayat ini berkaitan dengan kekuasaan Allah
untuk memberi atau mencabut kekuasaan seseorang, atau memuliakan dan
menghinakan seseorang sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi kehendak Allah
itu memberikan peluang kepada hamba-hamba-Nya untuk menggapai kemuliaan itu
dengan persyaratan yang jelas dan pasti. Allah telah menetapkan kemuliaan itu
adalah milik-Nya dan akan menjadi milik para Rasul dan Orang-orang yang
beriman, sesuai dengan firmanNya di dalam surat 63 ayat 8 yang artinya:” Kemuliaan
itu hanyalah milik Allah, dan menjadi milik Rasul-Nya dan juga menjadi milik
orang-orang mu'min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. Begitu
juga seluruh perbendaharaan kekayaan langit dan bumi Hanya milik Allah yang
tidak akan mungkin dipahami oleh orang-orang munafik yang jiwanya sakit.
Kekayaan itu hanya dia yang berhak menentukan distribusinya, tetapi Dia telah
berjanji untuk mengistimewakan pendistribusiannya secara khusus untuk orang
orang yang benar-benar beriman dengan teguh.
Didalam hidup ini banyak
sekali orang-orang berlomba-lomba mencari harta, ilmu dan kekuasaan. Dan tujuan
mencari semua itu agar mereka diakui keberadaannya, ingin dikatakan kaya,
mulia, besar dan lain sebagainya. Tetapi karena hati yang mengendalikan nya
tidak berdasarkan ketaqwaan, bukan kemuliaan yang didapatkan melainkan
kehinaan, disebabkan nafsu serakah telah menguasai dirinya.
Agama Islam tidak membedakan antara orang
kaya dan orang miskin, orang terhormat dan tidak terhormat. Karena yang
membedakan kemuliaan seseorang disisi Allah Ta'ala adalah ketaqwaannya. Yang
dinamakan taqwa adalah menjalankan segala perintah Allah Ta'ala dan menjauhi
segala larangan-Nya. Sedangkan yang menghalangi manusia tidak mau menjalankan
ketaqwaan adalah hawa nafsu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar