Rabu, 24 Agustus 2016

PERMATA INDAH ASMAAUL HUSNAA ( 25 ) AL-MU’IZZ ( YANG MAHA MEMULIAKAN )

Allah tidak pernah membuat ukuran kemuliaan manusia itu karena harta, pangkat dan ketampanan atau kecantikan. Tapi Allah menilai kemuliaan manusia itu dari ketaqwaan hati yang mengendalikan semua itu.

Betapa banyaknya kita menemukan yang berhias dengan kemewahan, harta melimpah dan banyak mempunyai kerabat, namun tiba-tiba bencana dan mala petaka datang menimpa, mereka hancur berantakan menjadi puing-puing yang berserakan, hidup dalam kehinaan setelah sebelumnya mereka menjadi orang terpandang dan terhormat.

Kita tidak akan pernah mencapai kemuliaan bila kita tidak pernah mencintai kemuliaan, dan mau menempuh jalan menuju kemuliaan itu, serta melaksanakan sebab yang membawa kepadanya. Sehingga kita meraihnya dengan rasa puas, dengan dada yang lapang dan dengan jiwa yang tenang, karena kita berjalan menuju kepadanya dengan dorongan cinta yang besar untuk cepat-cepat meraihnya.

Orang-orang yang dikuasai oleh hawa nafsunya dan berjiwa munafik tidak akan pernah meraih kemuliaan karena di lubuk hatinya tertanam rasa benci kepada kebaikan dan kebenaran, serta akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan yang diinginkannya, maka tentu saja orang yang seperti itu tidak akan mungkin sampai kepada kemuliaan, karena yang pantas untuk mereka hanyalah kehinaan dan kerendahan.

Al-Mu’izz berarti Allah Maha Memuliakan hamba-Nya. Allah memuliakan dan mengangkat derajat orang-orang yang berakhlak baik dan yang dikehendaki-Nya. Manusia tidak akan menduga barangkali seseorang yang di dunia begitu dimusuhi dan dihina, akan menjadi hamba yang mulia di sisi-Nya. 

Allah swt adalah pemilik hakiki segala kemuliaan. Dia berkuasa mutlak untuk menganugerahkan kemuliaan dan kekuasaan pada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Kemuliaan yang besumber dari Allah bersifat langgeng atau abadi, kecuali Dia sendiri yang mencabutnya. Kata al-Mu’izz sebagai kata sifat (subyek) tidak ditemukan dalam al-Quran, yang ada adalah kata kerja berupa yu’izzu atau tu’izzu yang berarti memuliakan, seperti disebutkan dalam Q.S. 3; Ali Imran ayat 26-27 yang artinya:” Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup. Dan Engkau beri rezki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas)."
Ayat ini berkaitan dengan kekuasaan Allah untuk memberi atau mencabut kekuasaan seseorang, atau memuliakan dan menghinakan seseorang sesuai dengan kehendak-Nya. Tetapi kehendak Allah itu memberikan peluang kepada hamba-hamba-Nya untuk menggapai kemuliaan itu dengan persyaratan yang jelas dan pasti. Allah telah menetapkan kemuliaan itu adalah milik-Nya dan akan menjadi milik para Rasul dan Orang-orang yang beriman, sesuai dengan firmanNya di dalam surat 63 ayat 8 yang artinya:” Kemuliaan itu hanyalah milik Allah, dan menjadi milik Rasul-Nya dan juga menjadi milik orang-orang mu'min, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui. Begitu juga seluruh perbendaharaan kekayaan langit dan bumi Hanya milik Allah yang tidak akan mungkin dipahami oleh orang-orang munafik yang jiwanya sakit. Kekayaan itu hanya dia yang berhak menentukan distribusinya, tetapi Dia telah berjanji untuk mengistimewakan pendistribusiannya secara khusus untuk orang orang yang benar-benar beriman dengan teguh.

Didalam hidup ini banyak sekali orang-orang berlomba-lomba mencari harta, ilmu dan kekuasaan. Dan tujuan mencari semua itu agar mereka diakui keberadaannya, ingin dikatakan kaya, mulia, besar dan lain sebagainya. Tetapi karena hati yang mengendalikan nya tidak berdasarkan ketaqwaan, bukan kemuliaan yang didapatkan melainkan kehinaan, disebabkan nafsu serakah telah menguasai dirinya.


Agama Islam tidak membedakan antara orang kaya dan orang miskin, orang terhormat dan tidak terhormat. Karena yang membedakan kemuliaan seseorang disisi Allah Ta'ala adalah ketaqwaannya. Yang dinamakan taqwa adalah menjalankan segala perintah Allah Ta'ala dan menjauhi segala larangan-Nya. Sedangkan yang menghalangi manusia tidak mau menjalankan ketaqwaan adalah hawa nafsu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar