Langit dan bumi tidak bersedih dan tidak pula
menangisi kehinaan yang ditimpakan oleh Allah kepada Qarun yang tidak bisa
menyelamatkan dirinya dan tidak bisa dibela oleh hartanya yang begitu banyak,
karena hartanya itu malah menjadi sebab kehinaannya. Begitu juga tidak ada yang
meratapi kematian Fir’aun yang dihinakan oleh Allah dengan tenggelam di tengah
lautan. Istana megah dan kemewahannya langsung saat itu juga dengan tiba-tiba
berpindah tangan menjadi milik orang lain.
Allah swt berkuasa menghinakan para
makhluk-Nya yang berbuat aniaya dan kejelekan. Dia berkuasa mutlak mencabut
kekuasaan yang disandang hamba-hamba-Nya hingga menjadi terhina. Allah swt
berkuasa menghinakan hamba-hamba-Nya. Dia berkuasa mutlak untuk mencabut
kemuliaan dan kekuasaan pada siapa pun yang dikehendaki-Nya hingga menjadi
terhina. Kehinaan yang besumber dari Allah bersifat langgeng atau abadi,
kecuali Dia sendiri yang mencabutnya. Kata al-Mudzill sebagai kata sifat
(subyek) tidak ditemukan dalam al-Quran, yang ada adalah kata kerja berupa
yudzillu atau tudzillu yang berarti menghinakan, seperti disebutkan dalam Q.S. 3; Ali Imran ayat
26.
Yang artinya:” Engkaulah yang memuliakan orang yang Engkau kehendaki dan
Engkau pula yang menghinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah
segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Lafal Al-Mudzill mempunyai arti atau
mengandung makna bahwa Allah adalah Dzat yang menundukkan orang yang
dikehendaki-Nya dengan jalan menghinakannya Sesuai dengan hikmah kebijaksanaan-Nya,
atas dasar ilmu dan keadilan-Nya Misalnya, Allah menghinakan orang-orang
musyrik, kafir, dan munafik karena kedurhakaan mereka. Allah tidak pernah
mendzalimi hamba-Nya, tetapi hamba itulah yang mendzalimi dirinya sendiri.
Seorang Muslim yang
menyadari hakikat al-Mudzill senantiasa
hati-hati dalam menggunakan harta kekayaannya. Ia tidak semena-mena
membelanjakannya, apalagi untuk kemaksiatan. Sebaliknya, seluruh hartanya hanya
dibelanjakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, menyantuni fakir miskin,
keperluan dakwah dan jihad fi sabilillah.
Di dalam Al Qur'an
dijelaskan bahwa orang-orang yang menjauhkan diri dari Allah dan mengingkari
ayat-ayat-Nya akan ditimpakan kehinaan. Salah satu dari mereka adalah
orang-orang Yahudi yang tidak mau beriman kepada Rasulullah, sebagaimana
diceritakan dalam Al Qur'an surat 3; Ali 'Imran
ayat 112 yang artinya:”Mereka diliputi kehinaan di
mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama)
Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia, dan mereka kembali mendapat
kemurkaan dari Allah dan mereka diliputi kerendahan. Yang demikian itu karena
mereka kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang
benar. Yang demikian itu disebabkan mereka durhaka dan melampaui batas.”
Dalam sebuah hadis qudsy Allah
berfirman,“Wahai manusia! Wahai budak-budak uang! Aku menjadikan uang agar
engkau dapat menikmati rizki-Ku, mengenakan pakaian-Ku, dan agar kalian semua
bertasbih dan menyucikan diri-Ku. Tetapi ternyata kalian mengambil kitab
suci-Ku, lalu engkau letakkan di belakangmu dan engkau mengambil uang lalu
engkau letakkan di atas kepalamu. Kau agung-agungkan rumahmu dan kau remehkan
rumah-Ku. Sungguh engkau bukanlah manusia pilihan, bukan orang-orang yang
merdeka. Tapi engkau adalah para budak dunia. Sekumpulan manusia sepertimu
laksana kuburan yang dibangun dengan tembok. Sepintas dari luar tampak cantik
molek, tetapi di dalamnya jelek. Begitu pula dengan sikapmu, sepintas kalian
berbuat baik, simpatik, dan penuh kasih kepada orang lain dengan mulutmu yang
manis dan perbuatanmu yang manis memikat, tetapi sesungguhnya hatimu keras dan
kasar, serta budi pekertimu sangat nista. Wahai manusia! Bersihkan perbuatanmu
dari noda, lalu mintalah kepada-Ku. Sungguh Aku memberi kepadamu lebih banyak
lagi dari apa yang dimintakan para peminta.”
Ya Tuhan kami, berilah
kami apa yang telah Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu. Dan
janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat. Sungguh Engkau tidak pernah
mengingkari janji.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar